Apakah Cinta Harus Memilih?

LivingInLove _ www.joelosteen.comSaya berikan judul dari postingan saat ini dengans ebuah pertanyaan “Apakah Cinta harus memilih?” saya tidak tahu, karena saya juga sudah tidak ada pada fase seperti ini. Yang saya tahu, saat saya menemukan tempat nyaman untuk pulang itu berarti keputusan tepat sudah memilihnya,

Saya pernah mudah (merasa paling tua begitu, he he he) di mana cinta mengalahkan logika saya dan di saat seperti itu logika saya memanglah sedikit dikalahkan oleh cinta, apa-apa karena cinta, apa-apa pastilah asalkan bersama kamu.
Continue reading

Surat Buat Bunda…

Bukan sebuah keluhan atau amarah jika saya menulis surat ini untuk Bunda, melainkan sebuah ungkapan kerinduan yang rasanya tak pernah terobati bahkan oleh sebuah pertemuan.

Bunda, Ananda memang tak pernah punya waktu cukup banyak buat Bunda. Terkadang 3 hari kunjungan pun dengan langka terburu-buru dengan alasan pekerjaan. Bunda, Ananda memang tak punya waktu banyak melihat Bunda bertumbuh tua…setiap kali pertemuan Ananda sadar kulit Bunda semakin mengendur walau mungkin hanya beberapa mili namun demikian buat Ananda Bunda tetap yang tercantik.

Continue reading

Sahur/Buka Pakai Apa?

image

Alhamdulillah besok sudah puasa, ini adalah Ramadhan pertama saya bersama suami. Kalau dulu saya cuek sekali, mau sahur atau tidak jarang menjadi pikiran tetapi sekarang lain karena saya harus mulai mikirin “nanti malam harus sahur pakai apa?”.
Continue reading

Sahur/Buka Pakai Apa?

Alhamdulillah besok sudah puasa, ini adalah Ramadhan pertama saya bersama suami. Kalau dulu saya cuek sekali, mau sahur atau tidak jarang menjadi pikiran tetapi sekarang lain karena saya harus mulai mikirin “nanti malam harus sahur pakai apa?”.
Continue reading

Fathers Day | I Love You, Papa..

Kita sudah terbiaasa dengan hari Ibu di Indonesia, ya…menyayangi atau memberi hadiah memang tak selalu dilakukan di hari Ibu. Saya sih, kapan saja jalan dan lagi banyak uang selalu berkeinginan membelikan hadiah buat Bunda meski pun berakhir di omelin karena dianggap boros dan membelikan apa yang sudah beliau miliki, he he he
Continue reading

Bukan Artikel Cinta

Puisi CintaCinta. Kata orang jika-lah tidak ada cinta pastilah tidak aka nada kehidupan karena kehidupan kita sendiri dimulai dari cinta. Jadi, kenapa haris saling membenci?

Ah, membenci, tentu saja tak akan disebut cinta jika kita tidak pernah merasakan benci. Karena puisi cinta pun tak akan harmony jika selalu bernada indah dan penuh pujian.

Semenjak arti cinta tak universal, kita akan cenderung membenci jika cinta itu sudah tak ada. Itulah kenapa Tuhan Maha Pengasih dan penuh dengan welas asih, Tuhan Maha Penyayang dan tak pernah pilih kasih.

Saya bukanlah seorang pecinta, karena hati saya sangat alot untuk mencinta namun saya mempunyai banyak space untuk menyayangi. Mencintai artinya berikrar tentang kesetiaan, maka dari itu bukan cinta jika kita membagi hati kita untuk orang lain.

Jangan muda katakana cinta jika kita tidak mampu memaknainya, jangan mengatakan cinta jika kita tak ada rasa takut kehilangan dan memilikinya karena cinta adalah possessiveness.

Hanya beberapa kalimat tentang cinta, bukan puisi atau essay tapi inilah cinta….jangan tak bisa ungkapkan cinta hanya karena takut kehilangan harga diri, karena cinta harus mampu melumpuhkan jarga diri dan ego. Ungkapkan cinta, tak harus dengan kata indah atau puitis tapi dengan sikap dan perlakuan. Karena cinta adalah bahasa tubuh tak sekedar sebuah kata “cinta” dari bibir kita.

Sudahkah sahabat menemukan cinta?

Perempuan Pembunuh

Dian mengayunkan pisau itu ke uluh hati Pramono berulang-ulang sampai Pramono tak sanggup lagi menahan udara yg ada di rongga dadanya agar bertahan di dalam ronggah paruhnya agar dia tetap hidup dan menyimpan oksigen untuk bernafas, namun Dian yang kesetanan tak memberinya ampun, hanya kemarahan yang nampak dari mata teduh dan biasanya penuh belas kasih itu. Pramono juga tak menyangkah perempuan selembut Dian mampu melakukan ini padanya…

“Dian saya minta tolong nanti antarkan makan siang buat Bu Lyan, ya?” Ungkap Pramono pada karyawan terbaik sekaligus sudah menjadi sahabat baginya.

Biasanya, walau dengan berat hati Dian akan menyanggupi permintaan Pramono. Tapi, entah kenapa pagi ini Dian merasakan sesak dalam hatinya sudah tak tertahankan, tak merasakah Pramono selama ini perhatiannya selama ini melebihi seorang bawahan ataupun sahabat? Sebodoh itu kah Promono menangkap sinyal-sinyal cemburu Dian setiap kali pembicaraan mengarah ke Lyan rekanan bisnis mereka. Ah….pagi ini benar-benar lain…ada kobaran amarah yang ingin keluar dari dadanya….

“Dian….” Ulang Promono karena dia hanya mendapatkan kebisuan Dian.

“Maaf, gak bisa” jawab Dian…

“Kok begitu? Katamu mau bantu aku dekatin Bu Lyan” ungkap Pramono ringan, Dian menahan sesak di dadanya….

“Iya, saya terpaksa…” Jawab Dian terputus..

“Dian….” Pramono setengah bergumam, menatap Dian tak mengerti.

“Bodoh, kalau sekali lagi kamu menyuruhku untuk mengantarkan makan siang untuk perempuan itu aku akan membunuhmu” jawab Dian dengan nada tinggi.

“Tapi, Dian….aku nggak ngerti…kamu, kamu kenapa??” Pramono tak mengerti….

“Aku mencintaimu, bodoh!” Tegas Dian.

“Nggak bisa begitu Dian….” Dan akhirnya mereka terlibat aduh mulut hebat sampai akhirnya Dian menghunuskan pisau ke uluh hati Promono karena penolakan Promono yang tak dapat diterimanya.

“Dian…” Promono menepuk bahu Dian pelan karena dia hanya mendapati kebisuan.

Dian mengangkat wajahnya, lalu tersungging senyum di sana.

“Baiklah Pram, tapi ini terakhir ya…” Jawabnya menahan sesak di dadanya.

“Kok begitu? Katanya…”

“Maaf, Pram…aku nggak bisa. Mulai hari ini aku resign” Dian memotong kalimat Pram lalu beranjak menahan air mata yang sudah menggenang dan tak mampu ditahannya dari tadi…

Sejatinya perempuan memiliki kekuatan yang sangat luar biasa untuk menyembunyikan luka hatinya, dia mampu membunuh jika mau namun kelembutan hati yang dianggap kelemahan itu yang menjadi kekuatan untuk menutupi luka hatinya…

Perempuan yang dianggap lemah itu mampu membunuh…

 
#Saya bikin fiksi mini lagi!

Belahan Jiwa


Selembar kertas putih, bertuliskan tinta biru melambai-lambai ditangannya karena tertiup angin.

“Jadi ini bukan chemistry saat aku tahu kamu bisa membaca pikiranku.

Kupikir dulu, saat kamu mengatakan apa yang masih terlintas atau yang ada dalam otakku adalah…wow, we have chemistry, we got the same feeling.

Yaaa, aku kecewa tapi…rasa ini benar-benar sudah terlanjur tumbuh.

Aku jatuh cinta saat itu dan sampai saat ini. Kalau kau bisa membaca pikiranku, apakah kau juga bisa mengerti isi hatiku?

Dariku Gadis yang merindukanmu”

Bayang-bayang gadis barambut panjang yang beberapa bulan terakhir ini mengisi hari-harinya kian jelas. Rambut panjangnya yang melambai tertiup angin tapi hanya tampak dari belakang seakan tak sudi menatapnya kembali. Ah, menyesalpun tak ada gunanya karena dia telah memilih gadis lain untuk menjadi pendamping hidupnya dan membiarkan sang belahan jiwanya pergi….

“Kemana belahan jiwaku itu pergi? Kenapa saat itu aku tak mempercayai perasaanku, malah aku pikir itu hanyalah emosiku belaka, emosi seorang lelaki terhadap perempuan baik yang selalu menyemangati dan membuat hidupnya lebih berarti”

Dia melangkah gontai dan masih memegang erat kertas putih bertitahkan tinta biru itu.

Ah…akhirnya bisa nulis fiksi lagi setelah sekian lama imajinasi kelelahan, hehehhehehe