​Bullying & Pertahanan Diri

Sedikit cerita tentang bullying yang terjadi di jaman saya dulu. Jaman saya juga sudah banyak bullying. Cuman ga ada media sosial jadi tidak pernah jadi perbincangan khalayak umum.

Dulu saat pertama kali masuk SD, saya pernah jadi korban bullying kakak-kakak kelas dan mereka main keroyokan. Tapi, konon saya denger memang mbak-mbak and the geng yang bullying saya ini emang dari keluarganya suka reseh ama tetangga ga khayal generasi mereka pun seperti itu. Kebetulan saat itu kami memang penduduk baru di lingkungan tersebut.
Suatu hari saya pulang dengan menangis karena dibully mereka, Bunda tanya kenapa dan saya cerita. Bunda langsung bicara tegas, kata beliau anak beliau itu ga cengeng kalau hanya hal seperti itu saya harus lawan. Tapi, bagaimana caranya saya cuma anak kelas 1 SD? Bunda kasih saya stick kayu suruh balik dan tantangin mereka semua kalau berani bully saya lagi akan saya pukul, tentu dengan ragu saya lakukan tapi dengan motivasi dari Bunda saya bisa. Mereka bungkam namun bukan berarti besok mereka berhenti, besoknya mereka ngebully saya lagi tapi kali ini saya lebih berani, begitu seterusnya tidak sampai hari ke-4 mereka diam tidak berani deketin saya dan kehidupan saya normal.
Tapi, sialnya di kelas 4  saya yang jadi tukang bully! Saya sering dijewer Pak Guru gara-gara melorotin rok teman sekelas (saya ga pernah ngebully adik kelas) bahkan teman cewek pernah ada yang menangis karena perbuatan saya. Saya pikir saat itu saya hanya iseng dan bercanda saja jadi ga ada konsep bullying di otak meski melakukannya berulang.
Nah, pada suatu hari perbuatan saya ketahuan Bunda di rumah. Saya melakukan bullying ke anak tetangga (saya melakukannya ke dia karena semua orang tidak cuma anak-anak melakukannya). Bunda menghukum saya tidak boleh bermain di luar, hanya di lingkungan rumah. Dan sambil memberi pengertian kalau saya harus menyayangi teman-teman saya apalagi yang berkebutuhan khusus seperti anak tetangga tersebut. Saat itu saya hanya menunduk dan Bunda menambahkan hukuman dengan hanya memperbolehkan saya main dengan anak tetangga yang saya bully.

Di situ Bunda terus-terusan menemani saya bermain, mencekoki saya arti dari pertemanan dan mulai saat itu memang saya tidak pernah diperbolehkan bergaul dengan bebas layaknya teman-teman lain.
Bunda selalu ingin kenal semua teman-teman saya, meski tidak menjudge kalau ada anak-anak yang sopan santunnya kurang Bunda akan mengatakan kepada saya bahwa yang dilakukan anak itu tidak benar dan saya jangan melakukan. Dan akhirnya saya benar-benar belajar untuk menyayangi teman saya yang nota bene kata orang-orang bodoh dan tulalit ini. Akhirnya saya juga bergaul dengan teman-teman yang membuat saya termotivasi buat belajar, kebetulan saya suka kompetisi, saya berkompetisi menjadi paling baik dengan 2 sahabat saya yang semuanya cowok. Kami bermain dan belajar bersama bahkan kadang makan pun bersama di rumah saya.
Mendidik cara ini mungkin tidak akan berhasil di masa sekarang, hanya saja mungkin yang bisa saya ambil dari pengalaman saya adalah membentengi anak dengan kemampuan membela diri, menjadikan anak sebagai sahabat, mengenal teman-teman anak kita dan mengenalkan konsep saling menyayangi baik secara norma ataupun agama penting buat pembentukan karakter anak agar tidak menjadi korban bullying pun pelaku bullying. Semoga saya bisa belajar terus karena anak saya masih balita dan kayanya mewarisi watak preman saya, hehehehe
Okay…challenging 😎😎

Pentingnya impian

Kalau dibaca judulnya mirip-mirip kata pembuka sebuah orasi di seminar motivasi MLM gitu ya…jangan begitu saya dulu aktif di MLM tertentu dan kalau kita ambil ilmu dari setiap motivasi seminarnya memang luaarrr biasa! Walau pun tetap tak ada motivator terhebat selain diri kita sendiri.

Tapi berbicara tentang impian, tak hanya mereka yang bergabung di MLM lho yang harus punya impian. Saya sadar betul butuhnya impian itu malahan dikenalkan pada anak-anak, ya tentunya kita harus mengenalkan mereka macam-macam impian yang terdekat; misalkan jjika orang tuanya musisi kenalkan dengan dunia musik, kalau orang tuanya penulis kenalkan dengan dunia tulis menulis. Continue reading

Potret Masa Depan

Bagaimana hubungan kita dengan orang tua? Saya yakin jawabannya “Baik” .

Bahasan saya kali ini bukanlah tentang orang tua dalam artian sebenarnya, akan tetapi para orang-orang tua yang sudah lanjut usia bisa jadi orang tua kita atau mungkin kakek dan nenek atau bahkan orang lain.

Saya ingin menyambung artikel saya yang berjudul “Pokoknya Tidak rela!” Di sana terjadi pertikaian antara Anak dan Bapak yang sudah lanjut usia, sangat disayangkan si Anak tidak begitu mengerti bagaimana physicist orang tua semakin bertambah umur akan seperti anak kecil, its not completely like that karena semua tidak bisa diukur dari usia. Bagi orang-orang yang otaknya masih productive, active bersosialisasi dan menutrisi otak mereka dengan pengetahuan (entah itu lewat media cetak, buku atau electronic) proses penuaan ini tentunya akan lebih lambat.

Continue reading

Fathers Day | I Love You, Papa..

Kita sudah terbiaasa dengan hari Ibu di Indonesia, ya…menyayangi atau memberi hadiah memang tak selalu dilakukan di hari Ibu. Saya sih, kapan saja jalan dan lagi banyak uang selalu berkeinginan membelikan hadiah buat Bunda meski pun berakhir di omelin karena dianggap boros dan membelikan apa yang sudah beliau miliki, he he he
Continue reading

Kado Buat Bunda

Tepat setahun lalu, lebih satu hari saya menuliskan sebuah artikel berjudul “Kado Buat Bunda”. Waktu berjalan sangat cepat, tidak terasa setahun sudah berlalu.

Setahun yang lalu, saya entah memberikan apa sebagai kado buat Bunda yang jelas kado itu pasti sesuatu yang Bunda inginkan. Alhamdulillah, meski tak banyak dan seberapa saya bisa memberikan sedikit demi sedikit apa yang selama ini Bunda inginkan meskipun sebenarnya beliau bisa membelinya sendiri.

Tahun ini, sama specialnya dengan tahun kemarin. Setiap tanggal 22 December menjadi hari special buat saya. Kesibukan memikirkan kado apa yang akan saya berikan ke Bunda selalu terjadi di awal December jadi di saat bertepatan harinya semua sudah saya bungkus rapih. Meskipun saya tak dapat pulang dan memberikannya sendiri saya sudah cukup senang karena saya bisa membuat 1 hari setiap tahunnya menjadi hari special buat Bunda.

Semoga tahun depan ananda dapat memberikanmu hadiah lebih besar dan berarti, Bunda. Semoga ananda mampu menjadi kebanggaanmu.