www.pantiasuhanbali.com

Sejak dari awal saya dan partner saya Ferdiaz Bookelmann (yang ada di lingkaran saya pasti tahulah siapa beliau) mendirikan DeZavo sebagai perusahaan sociopreneur, kami ingin memberikan banyak manfaat dengan berbagi entah itu ilmu ataupun materi.

Ini adalah tahun kedua DeZavo melalang di dunia hotel supply, masih banyak yang harus kami pelajari dan lakukan. Tahun ini adalah tahun banyak pembelajaran, belajar menjadi pebisnis yang lebih baik dan juga manusia yang lebih baik pastinya. Continue reading

Advertisements

Stay Calm & Be Happy

Dalam hidup ada saja permasalahan yang timbul, katanya jangan hidup kalau ga mau ketiban masalah. Lho, kata-kata itu terdengar kasar tapi ada benarnya. Dalam hidup, yang namanya masalah itu sudah menjadi satu kesatuan dengan hal-hal indah lain berupah berkat dari Yang Maha Kuasa lainnya. Kalau yang indah bisa kita terima, kenapa yang  bikin galau kita berusaha tolak dan lawan. Continue reading

Karena hidup tidak bisa tawar menawar dengan Tuhan

Pernah mengutuk hidup sendiri? “Kenapa aku memiliki hidup seperti ini, penuh derita?” saya pernah melakukannya. 

Menatap langit cerah, penuh bintang, di setiap sepertiga malam seusai sholat malam sambil berurai air mata mencoba merutuk diri dan melemparkan banyan pertanyaan “complaining”. Bodoh sekali saya, habis beribadah seperti itu seharusnya hati itu tenang setidaknya lepas dari rasa galau. Tapi entahlah ibadah macam apa yang saya lakukan saat itu. 

Tapi, saya sadar saat itu saya jadi rajin beribadah juga karena kesedihan tersebut. Kesedihan yang orang tidak bisa tangkap bahkan orang terdekat saya, orang tua. Atau mereka tahu cuma tidak bisa berbuat lebih lagi, lagi pula pantang bagi saya untuk menuntut ini dan itu pada orang tua. Sahabat berbagi rasa saya memang hanya Tuhan. 

Masih ingat dahulu, semasa SD kelas 4 atau 5 kalau ga salah di sekolah akan ada pesantren kilat, semua menyambut dengan gembira yang artinya di luar jam sekolah kami bisa kumpul bareng teman-teman. Tak terkecuali saya yang memang tidak bisa keluar rumah seenaknya, main pun ada jam-nya. Kata Bunda sih “biar kau ga jadi anak liar” kasar sekali kalimatnya, tapi begitu memang gaya bahasanya karena beliau tidak tamat SD. Meski demikian beliau adalah wanita cerdas dan memiliki hati seluas samudera. Wanita yang tulus, apa adanya dam tidak munafik.

Ya, saat itu harusnya saya bahagia sekali ada acara pesantren kilat tapi menjadi sedih karena saya tidak punya baju muslimah yang bagus seperti teman-teman. Baju saya ya itu-itu saja, bahkan banyak yanga hanya baju sisa dari saudara kami yang di Jakarta meskipun kondisinya masih bagus-bagus bahkan lebih bagus dari baju-baju anak di kampung. Tapi, namanya anak kecil..saya pun mencoba meminta ke Bunda dengan bahasa yang lugu dan dengan jujur Bunda bilang “dari mana ada uang? Apalagi acaranya satu minggu lagi” saya tidak berani meminta lagi, masuk kamar dan menangis terisak. Saya pun meminta sama Tuhan sampai tertidur karena kecapekan menangis.

Besoknya, Bunda menunjukkan sebuah bungkusan yaitu bahan baju dengan warnah magenta yang cantik. Katanya itu untuk bikin baju muslimah saya, nanti sore Papa yang anterin ke penjahit langganan. Saya pun sangat bahagia. Dari mana Bunda mendapatkan uang? Bunda tak pernah cerita, tapi hal itu membuka pikiran saya untuk bisa menghasilkan uang.

Sungguh gambaran kehidupan yang membuat saya jauh dari impian setinggi langit. Impian saya itu dulu cuma satu yaitu mengangkat derajat dan martabat orang tua, melepaskan mereka dari jerat kesusahan karena menjadi orang susah kerap dihina dan dikata-katain. Gak jarang kok saya pulang-pulang menangis, bukan karena dibully. Siapa yang berani nge-bully saya, bahkan anak-anak dengan badan besar pun akan saya lawan! Tapi menangis karena mendengar omongan keluarga besar yang ngata-ngatain Bunda. Sungguh jauh dari bahagia.

Tapi, tumbuh dalam kondisi seperti itu membuat saya banyak belajar. Belajar menyemangati diri sendiri, belajar ihklas, belajar bersyukur, belajar dan belajar sampai saya menemukan bahwa bahagia ternyata bukan tentang apa yang saya tuntut atau minta ke Tuhan terkabul atau tidak, tapi saat saya bisa menyadari bahwa kehidupan yang diberikan Tuhan kepada saya itu merupakan berkah luar biasa. BERSYUKUR DIBERIKAN HIDUP sehingga bisa menyicipi banyak rasa.

Karena sudah dibekali hidup, janganlah kita tawar menawar dengan Tuhan. Mencoba mengisi dengan sebaik-baiknya dan menjalani hidup tersebut dengan syukur. Bahkan di saat musibah datang ataupun saya didzolimi orang saya sekarang terbiasa untuk bercermin dan ihklas karena barang kali musibah tersebut adalah kunci untuk membuka pintu keberhasilan yang sedang ingin saya capai yaitu menjadi manusia sukses mulia. Dengan begini saya pun tidak lagi melihat masalah sebagai masalah sehingga orang melihat saya tidak pernah ada masalah, alhamdulillah. 

Inilah hidup kita, tidak bisa ditawar-tawar. Mau bahagia atau tidak itu pilihan.

Pekerjaan v.s Kosekuensi

Biarin lha ya, sekarang nulisnya pakai versus-versusan meski ga ada maksud mengadu mereka, apalagi adu domba. Domba sih bagus diambil woll-nya dan dibuat baju hangat ngapain juga diadu.

Pekerjaan v.s Kosekuensi. Jadi, memang benar semua pekerjaan itu ada kosekuensinya. Bahkan pengangguran pun ada kosekuensinya, karena kamu nganggur ya kosekuensinya ga punya duit, he he he. Kecuali nganggurnya memiliki investasi di mana-mana (ini sih gak nganggur, tapi tetep kerja) atau kalian memiliki warisan banyak, tapi kosekuensinya lama-lama habis juga kalau kita gak kerja untuk melakukan pengelolaan dengan baik.

ALERT : Anda akan banyak bertemu kata KOSEKUENSI dalam postingan ini 😀 Continue reading

Antara Passion & Wacana doang

Hari gini kita ngomongin passion, telat kali ya? Tapi ga diomongin juga entar bisa jadi ganjalan di kepala, pundak dan perut, entahlah rasanya bagaimana.

Setiap orang memiliki passionnya sendiri-sendiri, nah kalau ditanya passion saya apa sih? Selain yang menyangkut pekerjaan deh, yang berkaitan dengan rekreasi, hobby dan saudara saudarinya. Passion saya itu MENULIS. Gak cuma sekali lho saya mengatakan ini kepada dunia dan anehnya dunia tidak meredpon seolah apa yang saya bicarakan hanya bualan belaka, and its trues saudara-saudara.

Menjadi Penulis

Kalau-lah memang menulis menjadi passion saya harusnya saya rajin nulis, paling tidak di blog! Buktinya? Gak ada bukti tulisan apa-apa berbulan-bulan.

Pernah bercita-cita menjadi penulis tapi gagal total. Banyak banget alasannya dan begitulah semua cenderung mencari-cari alasan

Menulis Buku Dongeng

Saat itu saya masih remaja, remaja menjelang dewasa, remaja dewasa dan dewasa bercita-cita menjadi penulis buku dongeng dan karena susah dapat feelnya sempat mikir entar kali ya, kalau udah ada anak baru punya feel disitu.

Dan, saat sudah punya anak tetap saja begitu ga dapat feelnya dan bingung mau mulai di mana. Mau dapet feel dari mana pula wong baru buka laptop dan mau memulai anak sudah datang mengglandut di punggung, ahay! Tentu saja ini hanya alasan! Hehehe

Menulis Novel Cinta

Yang ini lebih epic lagi, beugh benernya apanya yang epic sih yang iya, lebih memalukan hehehe

Ada sih feel-nya, bisa banget bikin cerita cinta tapi bukan NOVEL. Ya wassalam deh, males banget nulis cinta-cintaan lagi karena berasa udah mendapatkan cinta (uhuk!uhuk!).

Jadi cerita cinta itu lebih dapat feel-nya kalau kita lagi mencari cinta, itu buat saya lho.

Menulis Buku “Tentang Sales”

Karena lebih dewasa dan lebih matang juga memiliki pengalaman kerja yang nota bene di bidang sales, akhirnya mulai menulis bab demi bab. Nah setelah dapat beberapa bab(tepatnya 5 bab) masalah mulai timbul, ya Allah kapan masalah ga datang dan menghalangi cita-cita saya menjadi penulis, ya?

Masalah Pertama, saya merasa ternyata ilmu saya di bidang sales itu masih teramat sangat cetek dan gak pantas menuliskannya ke dalam buku karena masih banyak yang jauh lebih hebat dan mereka ga pamerin di buku. Tapi beberapa rangkuman bab ber-ending di blog (untunglah).

Masalah Kedua, datanya hilang karena laptop dicuri maling! Wakakkaaka. Maling pun tahu kalau saya tak pantas menerbitkan buku.Ya, sudah maling membantu menghilangkan semua materi wakakakakka

Masalah Ketiga, saya menyerah dan focus megumpulkan pengalaman di bidang sales yang saya jalani 😁

Menulis Novel Misteri

Mengada-ada banget, ya? Mana ada sih penakut nulis novel misteri wong dulu nulis cerita pendek misteri aja ga berani baca ulang padahal tulisan sendiri.

Jangan komplain dulu, saya mengajak suami berkolaborasi karena merasa dia lebih banyak pengalaman di bidang ini tapi setelah berbicara dengan suami, sungguh menulis itu butuh ilmu saudara-saudara kita tidak bisa asal menulis yang ada di kepala kita apalagi tentang masalah yang tidak kita ketahui dengan sebenarnya karena menulis novel misteri bukanlah cerita kisah mistis di malam Jum’at di antara teman-teman kost yang setelahnya akan kita ketawain.

Dari cerita saya ini, saya bisa menarik kesimpulan kalau saya tidak bisa menjadi penulis buku karena saya kurang ilmu.