Pecalang

Wew, saya awali cerita saya dengan “wew” pastilah bukan sesuatu yang menyenangkan, ha ha ha

Sebenarnya ini adalah hal yang lucu, kalau saat itu saya pernah bercerita bagaimana pecalang menggedor pintu kost kami seperti polisi menggrebek seolah kami sedang mengadakan pesta sex atau narkoba nah kali ini saya ingin bercerita bagaimana kami menghindari pecalang itu, tapi kami menghindari bukan karena kami tidak memiliki kipem atau kami tidak memenuhi kewajiban yang mereka bebankan pada kami, tentu tidak…semua sudah kami penuhi tepat waktu jika mereka meminta. Kali ini saya benar-benar malas meladeni mereka, entah itu cuma bosa-basi atau apalah. Mungkin tindakan saya tidak benar, tapi saya memang sudah tidak suka saja dengan mereka.

Nah, karena lagi-lagi saya memang tak bisa menghindarinya.
Kali ini saya tanya ke mereka, apakah tidak bisa besok pagi? Dia bilang “ini wilayah saya jadi saya bisa saja menggedor jam 12 malam atau jam 3 pagi” wow, saya kaget bulan main, lalu saya tanya “trus, etika bertamu gitu udah ditiadakan, ya?” Eh, dia marah “jangan ngajari saya, kamu harus mentaati peraturan, saya mau periksa kipem” katanya, saya serahkan kipem saya dan saya bilang akan segera saya perpanjang kalau sudah waktunya.

Tapi, dengan kesan pertama yang seperti ini jujur saya malas deh Endah nanti mau suruh bapak kost aja kali buat perpanjang.

Sekali lagi saya harus mengungkit kost saya yang lama, mereka lebih sopan, bertanya baik-baik, menjelaskan dengan ramah, kenapa yang ini tidak bisa??

Ya…saya harap hanya karena punya kekuasaan mereka tak melupakan etika, orang seperti saya dan saya yakin banyak yang lain seperti saya lebih respect dan hormat pada mereka-mereka yang punya etika dan sopan santun.

Postingan ini saya buat tanpa ada maksud apapun selain mengingatkan betapa kita warga Indonesia yang terkenal dengan keramah tamahannya tidak berlaku kurang sopan seperti bapak-bapak pecalang yang saya ceritakan tadi.

Semoga weekend kita menyenangkan, sahabat 😉

Banyak Cerita…

Banyak sekali cerita yang terjadi beberapa minggu terakhir ini, saya sibuk banget sampai-sampai nggak ada waktu bahkan untuk membuka browser meski activitas setiap hari di depan komputer yang terconnect dengan internet, saking sibuknya sampai cerita-cerita yang sebenarnya akan me-ngeplong-kan (bahasa opo iki?) hati hilang berlalu begitu saja, kayanya sih menguap dengan bersamaan denagn hawa panas akibat dari cuaca extrim.

Beugh, banyak sekali hal-hal yang menyesakkan tapi tak sedikit pula yang melegahkan. Peristiwah demi peristiwa datang menghampiri, ada yang membuat saya harus menangis, marah tapi tidak ada yang tidak (artinya tak sedikit pula) yang membuat saya tertawa bahagia, masing-masing memberikan pelajaran sendiri-sendiri dan saya dapat menerimanya dengan ikhlas dan insyaallah saya berusaha sebijak mungkin menanggapi meskipun terkadang saya merasa dipojokkan oleh suatu masalah yang sebenarnya bukan salah saya, saya hanya tersenyum meski jujur ada rasa sakit di awal.
Continue reading

2011 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Syndey Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 34,000 times in 2011. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 13 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Ngapain taat kalau nggak ada yang lihat?


“Hah? Mati lampu???gilaaaaa, kerjaan bakalan terbengkalai dunk!!!”


“Hah?? Hati lampu?? Asiiiikkkk, kan bisa nyantai…nonton Film aja….ayuuukkkk, kapan lagi kita nyantai?”


“Jiaaahhh, kok mati sih…bakaln pulang malam dunk…”


Sahabat….dia tas adalah beberapa reaksi saat di sebuah kantor sedang mengalami pemadaman, karena hampir 100% pekerjaan harus dikerjakan dengan computer dan internet maka tanpa listrik pun mereka tak bisa kerja. Lalu, apa saja kira-kira yang dilakukan sahabat kita?
Continue reading

Cinta tak bersyarat


Iwan Fals – Ibu

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah

Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu

Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas…ibu…ibu….


Hari ini cuaca sedang tak baik, sepanjang hari hujan lebat disertai angin kencang. Cuaca yang seperti ini yang membuat Nadine merasa bertambah tak nyaman berada di rumah mungil ini. Dia menatap Ibunya yang terlihat khusyu menonton TV, sebuah acara gossip murahan buat Nadine.

“Shit!” umpat Nadine saat tiba-tiba muncul iklan dan Ibunya memindah channel, karena meski tak suka Nadine sedang menikmati tontonan gossip tak jelas itu. Benci sekali dengan tingkah Ibunya yang memindah-mindah channel layaknya anak kecil.
Continue reading

Scarlet dan Sahabatnya

Ilustrasi Scarlet

Scarlet gadis kecil lincah cantik berambut panjang dan bersenyum manis, siapapun yang melihatnya pasti akan gemas dan ingin mencubit pipi cubbynya. Keluguhannya, keceriaannya sangat menggemaskan dan memancarkan keindahan, sungguh bagaikan malaikat kecil yang dengan ceria melompat kesana kemari. Continue reading

Let’s be the BOSS!!

Taken from Google.com

Meditasi salah satu cara latihan mengontrol emosi 🙂



Aku hanya melirik-lirik tajam pada sebuah pertanyaan yang mampir di sebuah kolom kecil di layar monitor komputerku “Menurutmu, dia sombong banget, kan?”.Aku geregetan dan hampir menjawab “Dia emang belagu banget” tapi aku urungkan, dan lalu tersenyum sendiri “EGP, dech! yang penting kita tidak, okay!”
Continue reading

Kerinduanku..

 

Sempatkan waktu berbagi moment indah dengan orang-orang terkasih 🙂

 

Padahal mata sudah tak dapat dibuka tiba-tiba saja aku ingat akan sesuatu, rasanya akhir-akhir ini ada yang kurang…ah iya! aku sudah melupakan banyak hal kecil yang dulu menciptakan banyak kenangan denganku, hal-hal kecil yang membawah dampak besar…

Continue reading

Pesan seorang sahabat


Membayangkan saat membaca surat pendek dari seorang sahabat yang tak pernah aku temui ini sambil duduk, menatap sunset.

Sebuah surat yang aku temukan di antara folder lama, andai saja ini bukan jaman surat elektronik pastilah di sebuah kertas usang. Hm…sudah lebih dari 6 tahun usianya.

Jadi ingat, dia mengirimkan ini saat aku merasa sendirian…..
Continue reading