Apa yang kau pikirkan?

Saya melihat seorang Bapak tua, di punggungnya ada sebuah lemari pintu dua dia melangkah terhuyung menyusuri jalanan yang teramat panas. Dia berjalan terus menelusuri jalan berharap ada yang memanggil dan membeli lemari yang di bawahnya. Mukanya lusuh dan kusam.

Di tempat lain, saya melihat seorang lelaki tua yang berjalan dari kompleks perumahan ke perumahan yang lain sambil memukul-mukulkan ember barang dagangannya, berharap ada yang memanggil dan membeli embernya tapi sayang tak seorang pun yang membelinya karena di rumah pun sudah ada tumpukan ember tak terpakai.

Di pasar, saya melihat ibu-ibu tua yang menahan lelah karena sekeranjang belanjaan yang ada di atas kepalanya, dia berjalan terhuyung menulusuri jalan tanjakan menuju lokasi parkir. Ternyata dia hanya buruh angkat barang di pasar itu, dia tersenyum penuh syukur setelah menerima lembaran 5 ribu dari ibu-ibu si pemilik belanjaan.

Continue reading

Verona

Seperti halnya Verona, Indra pun hanya bisa tersenyum mereka layaknya dua orang bisu yang tak bisa berbicara apa-apa selain bahasa tubuh. Mungkin mereka terlalu bahagia. Kalau dulu diam Indra lebih pada menahan diri dari nafsu yang sudah meledak-ledak. Siapa coba yang tidak tergoda dengan sentuhan lembut gadis secantik Verona, kalau sekarang diam itu tak lebih pada kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Indra hanya bisa mendapati mata indah itu berkaca-kaca, ingin rasanya merengkuh gadis cantik dihadapannya ke dalam pelukan namun ada rasa takut, takut yang tak diketahui alasannya hanya timbul secara alami dan begitu saja. Dia akhirnya memaksakan diri untuk tersenyum, melihat bibir tipis Verona yang mencoba bergerak namun tak segera mengeluarkan suara dan membuat Indra menjadi serba salah.
Continue reading