Namaku Angin

Hai, namaku angin yang senantiasa mengiringi kesendirianmu di bawah terik matahari di tepi pantai ini.
Namaku angin yang senantiasa menemani pagi-pagimu,
menghembuskan semangat meski kau terkadang menyambutnya dengan malas,
membelai sayang meski terlalu sering kau merengkuh dengan enggan….

Hai, aku angin….
Yang mampu terpah tonggak tinggi dan besar sekali pun…
Namun, aku lebih suka membelai wajahmu dengan mesrah dan membuatmu tersenyum juga merasakan segaar di harimu yang penat…..

Hai, aku angin…..
Pagi ini hanya ingin mengatakan biarkanku membawah hujan bersamaku agar kau rasakan sedikit sejuk..

Syair tengah hari…

DSC03418 copySiangku, aku tak berteriak mencarimu bukan karena aku tak cinta padamu
Tapi, siangku terlalu banyak yang memujamu

Kau penuhi dirimu dengan beragam tawa dan canda orang-orang bercengkeramah,
Memaduh kasih, menyuapkan nasi ditengah waktu istirahatnya..

Ah, siang….

Kau hanya menjadi satu lompatan menunggu senja yang kupuja dan kidung malam yang kutunggu
Aku tak memujamu, tapi tetap bagian dari dirimu…

Ah, siang…

Kiranya terik ini berlalu, mungkin aku akan lebih diam dan tak lagi membedakan
Sejatinya , ku ingin memujamu seperti ku puja senja dan malam

Verona

Tanpa suara Verona duduk di atas kursi malas yang berada hanya 3 meter di belakang sang pujaan hati yang sedang melukis, memperhatikan tangan-tangan kekar yang dulu pernah dicumbuhnya itu dari kejauhan sambil terus mencoba menerkah apa makna lukisan yang belum sempurnah itu, walau dia tetap tak mampu karena dia tak memahami seni. Pernah dia memaksa belajar seni agar bisa mendekati pria yang dipujanya itu namun dia semakin hopeless dan semakin gila karena tak mampu memahami lukisan juga kecintaannya terhadap lelaki yang sebenarnya sudah tak mudah lagi itu semakin bertambah. Ya, lelaki yang sebenarnya lebih pantas menjadi ayahnya.
Continue reading