Dari mana datangnya ide?

Terkadang di dalam menulis, khusunya kita yang hobby nge-blog mempunyai kesulitan mencari ide di saat ingin meng-update blog atau sekedar menulis.

Saya sendiri, yang ngaku senang menulis terkadang mati ide kalau diminta menulis tentang tema tertentu karena menulis buat saya bukan sebuah keharusan namun adalah sebuah keinginan, di mana hati saya yang menuntun jadi ide itu datang di antara kesibukan kita beractivitas, di antara kesibukan dalam kehidupan kita bersosialisasi dengan keluarga, teman atau dalam lingkungan pekerjaan.

Kenapa begitu sulit menulis? Padahal dengan menulis itu secara otomatis menumbuhkan keinginan kita untuk membaca, dengan suka membaca akhirnya pun kita suka menulis. Membaca buku, membaca alam, membaca lingkungan juga keadaan. Dan menulis memang melatih kepekaan.

Jadi, dari mana datangnya ide? dia datang dari membaca 🙂

Nadzar

Pernahkah kamu bernadzar? Saya kira sih hampir semua orang pasti pernah bernadzar, karena nadzar ini seperti merupakan sebuah janji kita kepada sang maha kuasa jika apa yang kita ingini itu menjadi nyata.

Saya kemarin bernadzar, berucap janji bahwa saya akan membeli 4 bungkus Tahu Tek-Tek Bapak itu jika malam ini dia berjualan, dan ya dia jualan.

Uang yg saya keluarkan untuk Nadzar ini memang tidak seberapa tapi….. Ya, bagi yang tidak membaca kisah Penjual Tahu Tek-Tek artikel saya sebelumnya tidak mengerti apa tujuan saya bernadzar dan saya bernadzar untuk apa.

Saya bernadzar jika Bapak jualan Tahu Tek Tek malam ini berjualan saya akan beli 4 bungkus dan membayar untuk 5 porsi. Dan Bapak ini jualan tepat di malam ke-4 sesuai perhitungan.

Jadi, bukan uang yang menjadi permasalahannya namun ini tentang timing alias waktunya! Saya beli di jam 11 malam di mana semua isi kost sudah tidur, jadi yang menjadi masalah sekarang bagaimana menghabiskan 4 bungkus Tahu Tek-Tek ini?

Tapi, janji sudah terbayar 😀

Murtad part #1 – Membaca & Menulis lagi!

Entah sudah berapa lama saya sudah tidak menulis pun membaca, padahal saya selalu bercerita ke siapa saja kalau menulis dan membaca adalah passion saya, see bukan sekedar hobby lho tapi passion! Kok, saya serasa mengkhianati diri sendiri.

Saya sedang menapaki kehidupan baru saya, ya…akhirnya setelah beberapa kali gagal akhirnya ada yang melamar saya juga (apa maksudnya?) dan insyaallah hanya menghitung bulan kami akan menikah, ya…bukan berarti oleh karena sibuk dengan calon suami saya saya jadi meninggalkan hobby yang saya cintai tentu saja tidak, karena dia mengenal saya pasti juga dari membaca tulisan saya, betul tidak? Jadi, saya memang benar-benar sibuk sehingga di saat senggang saya memilih tidur dan sisahnya itu tadi…saya harus mulai membiasakan diri untuk tidak terlampau konsentrasi dengan diri sendiri.

Jika saya bilang kesibukan saya paling banyak adalah pekerjaan kantor, pasti ada yang bilang time management saya kurang bagus! Honestly, terkadang saya merasa waktu 8 jam yang diberikan kepada saya memang tidak cukup untuk merampungkan semua pekerjaan itu, setiap pulang (jam 7 atau jam 8 malam) pasti masih ada outstanding task di agenda saya, belum lagi kalau pas ada sales baru saya harus training dia, paling tidak 2 jam waktu saya invest ke dia. Memangnya saya trainer, ya? Well…ya maybe suatu saat nanti saya akan menjadikan pilihan profesi trainer saat saya sudah men-training minimal 250 orang! He he he he

Nah, entah kenapa beberapa hari yang lalu hatis ay aini berontak, merontah-rontah, berteriak (sedikit hiperbolis, he he) ingin menulis dan membaca! Akhirnya dalam waktu istirahat I took 10 minutes to write an article in Kompasiana dan pulang kerja pergi ke Gunung Agung (took buku terdekat dari kost dan paling dekat dengan araea yang jual banyak macam makanan) dan langsung saya membeli 4 buku!

Buku apa saja yang saya beli? Mau tahu? Mau tahu aja apa mau tahu banget? He he he