Verona

Beberapa jam Indra mencoba menyelesaikan lukisannya, namun tak nampak ada guratan-guratan menuju titik tertinggi di mana karya itu disebut selesai dan siap dinikmati. Pikirannya sedang jatuh pada gadis berjilbab yang sedang tertidur di kursi malas yang sengaja ia taruh di situ agar setiap selesai melukis dia bisa menghilangkan rasa penat di sana.

Gadis itu telah berubah, entah apa yang telah merubahnya. Kecantikannya semakin terpancar saat angin membuai wajahnya dan saat jilbabnya menutup sebagian wajahnya karena tertiup angin, hanya mata indah itu yang mampu dilihatnya membuat tangan Indra bergerak dan menghasilkan sebuah lukisan abstract “mata indah” yang sedang terkatup sangat indah seperti kelopak bunga, dan sangat damai.
Continue reading

Verona

Tanpa suara Verona duduk di atas kursi malas yang berada hanya 3 meter di belakang sang pujaan hati yang sedang melukis, memperhatikan tangan-tangan kekar yang dulu pernah dicumbuhnya itu dari kejauhan sambil terus mencoba menerkah apa makna lukisan yang belum sempurnah itu, walau dia tetap tak mampu karena dia tak memahami seni. Pernah dia memaksa belajar seni agar bisa mendekati pria yang dipujanya itu namun dia semakin hopeless dan semakin gila karena tak mampu memahami lukisan juga kecintaannya terhadap lelaki yang sebenarnya sudah tak mudah lagi itu semakin bertambah. Ya, lelaki yang sebenarnya lebih pantas menjadi ayahnya.
Continue reading