Beberapa Fakta Tentang Orang Tua

Sahabat, apakah sahabat pernah berfikir tentang beberapa fakta orang tua yang selama ini membesarkan kita? Mungkin, kita selama ini sering sekali berpikir orang tua kita tidak sayang pada kita hanya karena kita merasa mereka tak selalu menuruti apa yang kita mau, mengamini permintaan kita atau malah lebih sering bertengkar dengan orang tua kita? Well, it seemed that we have to know some facts about our beloved parents.

Dalam benak orang tua, anak-anaknya selalu anak kecil itulah makanya terkadang atau bahkan seringnya mereka tidak mempercayai kita untuk melakukan hal-hal besar atau membuat keputusan, sebagai anak kita seringnya salah faham dengan hal ini. Kita berpikir orang tua kita meragukan kemampuan kita padahal ni karena buat mereka kita ini tetap anak kecil yang memang harus ada dalam perlindungannya. Bahkan, saat kita sudah berprestasi pun mereka akan tetap bilang bahwa anak kecilnya sangat hebat dan membanggakan.

Saat kita sudah dewasa, mereka mendesak kita untuk cepat menikah namun saat itu tiba orang tua kita merasa sangat sedih karena merasa kalau anaknya akan jauh dari mereka dan terkadang anak menentang apa yang menjadi masukan orang tuanya tentang calon pasangan, padahal ni…apalagi seorang Ibu biasanya insting mereka sangat kuat terhadap anaknya, percayalah setuju atau tidak mendengarkan pendapat mereka itu perlu.
Continue reading

Belahan Jiwa


Selembar kertas putih, bertuliskan tinta biru melambai-lambai ditangannya karena tertiup angin.

“Jadi ini bukan chemistry saat aku tahu kamu bisa membaca pikiranku.

Kupikir dulu, saat kamu mengatakan apa yang masih terlintas atau yang ada dalam otakku adalah…wow, we have chemistry, we got the same feeling.

Yaaa, aku kecewa tapi…rasa ini benar-benar sudah terlanjur tumbuh.

Aku jatuh cinta saat itu dan sampai saat ini. Kalau kau bisa membaca pikiranku, apakah kau juga bisa mengerti isi hatiku?

Dariku Gadis yang merindukanmu”

Bayang-bayang gadis barambut panjang yang beberapa bulan terakhir ini mengisi hari-harinya kian jelas. Rambut panjangnya yang melambai tertiup angin tapi hanya tampak dari belakang seakan tak sudi menatapnya kembali. Ah, menyesalpun tak ada gunanya karena dia telah memilih gadis lain untuk menjadi pendamping hidupnya dan membiarkan sang belahan jiwanya pergi….

“Kemana belahan jiwaku itu pergi? Kenapa saat itu aku tak mempercayai perasaanku, malah aku pikir itu hanyalah emosiku belaka, emosi seorang lelaki terhadap perempuan baik yang selalu menyemangati dan membuat hidupnya lebih berarti”

Dia melangkah gontai dan masih memegang erat kertas putih bertitahkan tinta biru itu.

Ah…akhirnya bisa nulis fiksi lagi setelah sekian lama imajinasi kelelahan, hehehhehehe