Menikmati Bali

Bali its not my hometown, tapi saya mulai menyukai Bali karena saya sudah menemukan teman-teman, saudara dan juga lingkungan yang cukup membuat saya nyaman di sini.

Orang-orang selalu bilang “welcome to paradise” jika itu menyangkut Bali.

Sedikit tentang Bali yang mulai saya nikmati ini, Bali yang dua tahun lalu saya datangi ini sangat legang namun belakangan mulai padat dnegan banyaknya di bangun hotel, restaurant club dan sarana public lainnya. Untuk bisnis tertentu hal ini sangat menguntungkan apalagi kalau bisa ambil bagian dalam project-project yang mereka dirikan, namun dalam hal “jati diri” saya sedikit khawatir (boleh kan khawatir?) kalau Bali kehilangan jati dirinya, karena sekarang saya mulai melihat ada bangunan yang mungkin sih masih belum melebihi batas maximum tinggi bangunan yang ditentukan, namun dilihat dari padatnya bangunan dan padatnya jalan ke-exotisan Bali yang dulu sedikit berkurang.
Continue reading

Verona

Seperti halnya Verona, Indra pun hanya bisa tersenyum mereka layaknya dua orang bisu yang tak bisa berbicara apa-apa selain bahasa tubuh. Mungkin mereka terlalu bahagia. Kalau dulu diam Indra lebih pada menahan diri dari nafsu yang sudah meledak-ledak. Siapa coba yang tidak tergoda dengan sentuhan lembut gadis secantik Verona, kalau sekarang diam itu tak lebih pada kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Indra hanya bisa mendapati mata indah itu berkaca-kaca, ingin rasanya merengkuh gadis cantik dihadapannya ke dalam pelukan namun ada rasa takut, takut yang tak diketahui alasannya hanya timbul secara alami dan begitu saja. Dia akhirnya memaksakan diri untuk tersenyum, melihat bibir tipis Verona yang mencoba bergerak namun tak segera mengeluarkan suara dan membuat Indra menjadi serba salah.
Continue reading

Verona

Hidup ini memang egois, terkadang kita harus lupa dengan apa yang dirasakan oleh orang lain demi tujuan kita. Bukan, bukan melupakan tapi mengabaikan begitu lebih to the point. Nah, bahkan untuk mengatakan sesuatu yang kurang mengenakkan pun kita memilih kata-kata indah yang terkadang orang itu malah tidak mengerti dengan maksud kita. Kalau begitu mendingan kita tutup mulut daripada nanti Verona tersinggung.

Untuk mendapatkan uang pernah seseorang berusaha memperalat Verona menjanjikan Verona segepok uang, menjadikannya seorang model hanya karena Verona cantik, seseorang itu memakai kata “menolong” Verona tidak tertarik bukan karena dia tahu laki-laki itu penipu namun terlebih karena Verona sudah memiliki uang dan segalanya, iya segalanya kecuali ketenangan batin.
Continue reading

Verona

Sebuah perjalanan panjang dan penuh liku yang ditempuh Verona demi mencari kebenaran akan nikmat yang sesungguhnya, lebih dari kenikmatan yang direngguhnya setelah bersetubuh dengan laki-laki paling jantan manapun. Kebimbangan selalu mengikuti bahkan saat dia memulai mendapatkan sedikit demi sedikit arti nikmat dalam kehidupan yang sedang dijalaninya sekarang.

Verona hanyalah gadis muda yang masih mencari jati diri, dirinya masih sering terombang-ambing oleh kenikmatan syurga dunia. Persahabatannya dengan Citra gadis baik-baik yang ditemuinya di bandara saat perjalanan dari Malang ke Bali membuatnya menemukan cara lain dalam menikmati hidup, dia lebih mengerti bahwasannya “kenikmatan” yang sering dia cari itu ada yang menciptakan, “kecantikan” yang dimilikinya itu juga bukan apa-apa melainkan pembungkus. Citra membuka matanya akan dunia lain selain dunia ranjang (shit! Verona menyumpahi dirinya yang tak pernah lepas dari kenikmatan permainan di ranjang).
Continue reading

Verona

Beberapa jam Indra mencoba menyelesaikan lukisannya, namun tak nampak ada guratan-guratan menuju titik tertinggi di mana karya itu disebut selesai dan siap dinikmati. Pikirannya sedang jatuh pada gadis berjilbab yang sedang tertidur di kursi malas yang sengaja ia taruh di situ agar setiap selesai melukis dia bisa menghilangkan rasa penat di sana.

Gadis itu telah berubah, entah apa yang telah merubahnya. Kecantikannya semakin terpancar saat angin membuai wajahnya dan saat jilbabnya menutup sebagian wajahnya karena tertiup angin, hanya mata indah itu yang mampu dilihatnya membuat tangan Indra bergerak dan menghasilkan sebuah lukisan abstract “mata indah” yang sedang terkatup sangat indah seperti kelopak bunga, dan sangat damai.
Continue reading

Verona

“Kau percaya takdir?” tanya Verona pada sahabat yang selama ini membantunya untuk memperbaiki hidupnya kemarin sebelum ke rumah ber cat putih yang jauh dari kesan mewah seperti halnya rumahnya di pulau Dewata yang ditinggalkannya. Citra tersenyum sambil mengangguk pasti.
Continue reading

Verona

Tanpa suara Verona duduk di atas kursi malas yang berada hanya 3 meter di belakang sang pujaan hati yang sedang melukis, memperhatikan tangan-tangan kekar yang dulu pernah dicumbuhnya itu dari kejauhan sambil terus mencoba menerkah apa makna lukisan yang belum sempurnah itu, walau dia tetap tak mampu karena dia tak memahami seni. Pernah dia memaksa belajar seni agar bisa mendekati pria yang dipujanya itu namun dia semakin hopeless dan semakin gila karena tak mampu memahami lukisan juga kecintaannya terhadap lelaki yang sebenarnya sudah tak mudah lagi itu semakin bertambah. Ya, lelaki yang sebenarnya lebih pantas menjadi ayahnya.
Continue reading

Verona

VeronaAngin September tahun ini masih seperti September 2 tahun lalu, masih dingin dan sangat kuat menggoyangkan ranting-ranting kokoh pohon mangga tua yang masih kokoh berdiri di depan rumah kecil dengan dinding kayu bercat putih, dengan aneka bunga di sekelilingnya. Iya berdinding kayu tetapi sangat indah di dalam kesederhanaan, sangat indah di dalam harmonisasi warna-warna bunga di sekelilingnya, tak banyak kaca dan jendela, hanya satu di setiap kamarnya yang hanya ada 2 kamar di situ, lantai kayu yang sudah mulai usang, dan aroma cat yang akan tercium saat mulai memasuki rumah itu, semakin ke dalam aroma cat itu semakin tercium karena di halaman belakang sana ada seorang tampan yang senang sekali memainkan cat beraneka warna di atas kanvas.

Langkah-langkah kecil riang tanpa beban yeng menyusuri rerumputan di halaman itu kini berubah menjadi langkah anggun penuh peretimbangan, berjalan pelan, langkah anggun yang tak pernah terayun sebelumnya. Verona, pemilik kaki itu. Gadis cantik bermata sayu, dengan cekungan yang indah dan sedikit dalam, khas mata gadis latin, rona merah pipinya masih terlihat segar meski sebagian tertutup jilbab. Jilbab ungu yang dipadukan dress panjangnya dengan warna senada melambai-lambai tertiup angin, bibir tipisnya menyunggingkan senyum yang sangat manis, kini langkah kecewa saat meninggalkan tempat ini menjadi langkah yakin akan sebuah kebahagiaan yang selama ini dicarinya tentang sebuah cinta.
Continue reading