Menulis melatih kepekaan kita

Entah kenapa sekarang setiap jam 5 kurang 10 menit atau kurang 5 menit saya terbangun dari tidur saya tak peduli semalam saya tidur jam 1 atau jam 2 dini hari, ya walaupun pada kenyataannya saya bangun setelah alarm berbunyi yaitu 05:20. Di Bali jam segini masih gelap, biasanya saat bangun saya langsung mandi lalu sholat Subuh.

Di lain cerita, entah mengapa terkadang saat saya menuliskan sesuatu, ok..katakanlah sebuah email ke klien dalam hati saya tiba-tiba terbesit “pasti nanti klien akan bertanya begini..” and it happened! Ini bukan suggesti saya kira, karena setelah itu saya sudah abaikan.

Jadi, setuju tidak kalau kepekaan itu bisa dilatih karena kebiasaan?
Oleh karena saya biasa bunyikan alarm jam 5 meski alarm tidak lagi saya setting jam 5 maka saya bangun jam 5 dan oleh karena saya sudah biasa mendalami karakter dari klien-klien saya jadi saya tahu apa yang bakal dia tanyakan jika saya bicara begini dan begitu.

Kepekaan ini (masih menurut saya, sih dan namanya juga analysa ngawur) kepekaan ini selain bisa dilatih dengan membiasakan diri juga bisa diasah dengan menulis.

Mungkin tak ada yang peduli dengan hal ini, tapi percaya atau tidak semakin sering saya menuliskan apa yang lihat, saya rasakan saya merasakan insting saya lebih tajam dan jalan. Lebih singkatnya menulis itu memang melatih kepekaan kita terhadap sekitar.

Dengan menulis, ternyata secara tidak langsung kita melatih menjadi peduli dengan perasaan kita sendiri (peduli dengan apa yang kita tulis) dan hal ini pun akhirnya berpengaruh pada kepedulian kita pada sekitar. Jadi ingat saat saya dulu aktif jadi activist remaja anti rokok, kata senior saya “kalau ingin mengajak orang lain berubah ya kamu harus mengawali dari diri kamu sendiri”.

Menulis menjadi step awal untuk memprovokasi diri kita sendiri untuk mendalami atau berada dalam tulisan itu, sehingga kita secara tidak langsung terkadang memaksa diri kita untuk merasakan hal yang sebenarnya belum pernah kita rasakan, sehingga jika suatu saat kita mengalami hal itu kita sudah tidak kaget lagi, oleh karenanya penting buat kita untuk menanamkan positive thinking dan positive feeling agar reaksi yang timbul saat mengalami hal apa yang selama ini tak pernah kita alami tidak shock tapi lebih pada “I’m ready and I know how to deal with it”

Menulis itu melatih kepekaan disadari atau tidak πŸ™‚

Advertisements

9 thoughts on “Menulis melatih kepekaan kita

  1. hmm, betul juga ya…
    setelah lama melakukan kegiatan yg sama setelah berkali2, tanpa sadar sudah jadi kebiasaan~ 😳

  2. Setuju, tapi tanpa disadari mbak hanie sudah berhasil ‘konek’ dengan doi (baca : alam bawah sadar). Dulu saya juga gitu, entah kenapa bangun jam set.5 malah, tapi skg ga pernah lagi, πŸ˜†

  3. sepakat deh sama kamu Hani, menulis memang mengasah kepekaan kita kok.
    kalo masalah bangun, kalo saya lebih sering karena dipikirkan, misal saya harus bangun jam 10 malam untuk minum obat saya sudah pesan pada seseorang untuk membangunkan saya tapi sayanya malah bangun duluan. begitu juga pas pengen bangun jam 3 pagi juga terbangun dengan sendirinya, seperti ada yng ngebangunin gitu hehe..

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s