Papa, my king father

Pagi ini tadi, Bunda menelphone saya. Kami mengobrol lumayan lama, kira-kira satu setengah jam. 2 hari saya tidak mengobrol dengannya, banyak yang ingin saya ceritakan akan tetapi karena peristiwa kemarin saya takut ngobrol sama Bunda. Saya tidak bisa menahan isak tangis kalau sudah curhat dengannya.

Seusai ngobrol sama Bunda, tiba-tiba saya rindu dengan Papa. Dulu kalau ada masalah saya selalu cerita ke Papa dulu namun, karena Papa typical orang yang susah ngobrol di telephone dan jarak kami berjauhan saya lebih banyak cerita ke Bunda.
Saya rindu dengan masa-masa dulu, bagaimana Papa memberikan saya semangat. Beliau selalu bilang “Masa anak Papa gitu saja nangis, rugi dong!” Cuma begitu seolah kalau anak Papa itu harus tough! Tegar dan nggak cengeng.

Melihat anak kecil bermain dengan Papanya, saya juga teringat dengan masa-masa di mana Papa bermain dengan saya. Papa yang dulu ngajarin saya main bola bekel, lompat tali juga beberapa mainan lainnya.
Selain bermain Papa mengajari saya sholat Tahajjud dengan memberikan contoh setiap malamnya beliau melakukan sholat malam begitu juga dengan puasa Senin-Kamis. Saya masih ingat saat-saat saya mencari jati diri, saya limbung. Papa memberikan saya nasehat kalau saya sedang sedih, gelisah perbanyak saja dzikir maka hati  kita akan tenang dan saya memakainya sampai sekarang. Setiap saat ada perasaan tidak tenang, gelisah atau sedih saya pun perbanyak dzikir.

Papa saya orang biasa yang luar biasa, bagi Papa istri dan anak-anaknya adalah yang terpenting. Dan yang paling luar biasa sebagai seorang ayah Papa tak pernah terdengar mengeluh di depan kami, anak-anaknya. Dan sebagai seorang suami Papa juga sangat sayang sama Bunda, perhatian dan menurut saya Papa itu romantis. Rasanya senang melihat Papa bercanda mesra dengan Bunda di usia mereka sekarang.

Kalau Allah SWT memberikan saya kesempatan untuk hidup lagi saya tetap memilih menjadi anak dari Papa dan Bunda saya.

Advertisements

24 thoughts on “Papa, my king father

  1. Wow… meski kasih sayang ibu sepanjang masa, tapi kebersamaan dengan Ayah sangat terasa..

    dulu semasa kecil saya lebih suka jalan2 ke pasar dengan ayah. beliau kalo lagi banyak duit mengambulkan semua permintaan anak2nya.

    sekarang ayah udah ngak ada. tapi cinta nya masih terasa sampe sekarang

  2. Pingback: Giveaway 'Semut Pelari' | Sekuter

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s