Verona

VeronaAngin September tahun ini masih seperti September 2 tahun lalu, masih dingin dan sangat kuat menggoyangkan ranting-ranting kokoh pohon mangga tua yang masih kokoh berdiri di depan rumah kecil dengan dinding kayu bercat putih, dengan aneka bunga di sekelilingnya. Iya berdinding kayu tetapi sangat indah di dalam kesederhanaan, sangat indah di dalam harmonisasi warna-warna bunga di sekelilingnya, tak banyak kaca dan jendela, hanya satu di setiap kamarnya yang hanya ada 2 kamar di situ, lantai kayu yang sudah mulai usang, dan aroma cat yang akan tercium saat mulai memasuki rumah itu, semakin ke dalam aroma cat itu semakin tercium karena di halaman belakang sana ada seorang tampan yang senang sekali memainkan cat beraneka warna di atas kanvas.

Langkah-langkah kecil riang tanpa beban yeng menyusuri rerumputan di halaman itu kini berubah menjadi langkah anggun penuh peretimbangan, berjalan pelan, langkah anggun yang tak pernah terayun sebelumnya. Verona, pemilik kaki itu. Gadis cantik bermata sayu, dengan cekungan yang indah dan sedikit dalam, khas mata gadis latin, rona merah pipinya masih terlihat segar meski sebagian tertutup jilbab. Jilbab ungu yang dipadukan dress panjangnya dengan warna senada melambai-lambai tertiup angin, bibir tipisnya menyunggingkan senyum yang sangat manis, kini langkah kecewa saat meninggalkan tempat ini menjadi langkah yakin akan sebuah kebahagiaan yang selama ini dicarinya tentang sebuah cinta.

Tanpa ragu, tangan Verona membuka pintu di depannya yang dia yakini masih tak terkunci, sama seperti dulu saat dia melangkah meninggalkan rumah itu “pintu ini tak pernah terkunci”, langkahnya semakin kedalam dan semakin mendekat lalu berhenti di ambang pintu besar berukuran 2 meter, memperhatikan seorang lelaki tegap yang sedang memain-mainkan kuas di atas kanvas berwarna putih sama dengan celana dan baju yang dikenakannya, tak jelas yang dilukisnya hanya goresan-goresan abstract penuh warna yang mungkin akan memberikan kenikmatan bagi yang memahaminya, melebihi kenikmatan bercinta dengan puluhan gaya!

Verona mencoba menghela nafas, mengumpulkan keberanian untuk menarik lelaki yang dicintainya dari syurganya karena lelaki yang dicintanya itu saat melukis seperti bercinta dan tak mau dihentikan, menghentikannya sama saja dengan membuat moodnya tak baik dan sakit kepala! Kalau dulu, Verona akan langsung menyergapnya dari belakang tak peduli dia akan marah atau kehilangan syurganya karena dia merasa bisa memberikan syurga kenikmatan yang lebih dari melukis, bahkan bisa memberinya mood baik untuk melukis. Merasa, walau tak begitu benar adanya. Kini keadaannya lain, Verona merasa tak mungkin memberikan syurga kenikmatan itu dan tentu saja bukan karena kini dia frigid terlebih menopouse, namun karena kini dia memiliki garis pembatas yaitu norma yang tak mungkin dilanggarnya.

Bersambung ke Verona Part. 2

Advertisements

23 thoughts on “Verona

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s